Menikmati Wisata Gundaling Di Beras Tagi, Tanah Karo…

SumutNews.com | BERASTAGI — Objek wisata yang menawarkan panorama keindahan kota Berastagi adalah Bukit Gundaling yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.Menyongsong perayaan umat beragama Kristiani yakni Hari Kelahiran Yesus Kristus, Natal, maka pantas kita diajak berkunjung kelokasi wisata yang tidak asing lagi yakni Gundaling, di Berastagi Kabupaten Tanah Karo. Amatan MetroRakyat.com di lokasi wisata, ribuan pengunjung memadati lokasi wisata Bukit Gundaling, Minggu (18/12/2016). Beragam pengunjung dari beberapa daerah seperti Pematangsiantar, Medan, Tebing Tinggi, Aceh dan daerah lainnya melirik lokasi wisata yang menjadi salah satu andalan Pariwisata di Tanah Karo. Bukit ini menjadi tujuan favorit bagi wisatawan yang mengunjungi Berastagi untuk melihat panorama alamnya, khususnya Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung dari bukit tertinggi. Berjalan kaki sambil menyusuri puncak bukit Gundaling sungguh menyenangkan dan memberi sensasi tersendiri bagi wisatawan. Sebab, dari bukit yang banyak ditumbuhi pohon pinus ini, wisatawan bisa melihat keindahan alam sambil menikmati udara Berastagi yang menyegarkan. Selain pepohonan rindang, ada juga bunga-bunga indah serta patung manusia yang mengenakan pakaian adat khas suku Batak Karo.

Jika lelah menyusuri bukit, wisatawan bisa duduk bersantai di tempat yang telah disediakan, ada bangku dan bebatuan besar yang bisa diduduki. Jika dianggap masih kurang santai, Anda dapat menyewa tikar dan tenda untuk melindungi embusan angin yang terkadang cukup kencang. Boru Ginting, pemilik tempat sewa tikar menuturkan pengunjung yang menyewa tempat, biasanya yang membawa bekal makanan yang disiapkan dari rumah untuk dimakan bersama-sama dipuncak bukit Gundaling. “Biasanya keluarga besar yang ingin makan bersama sambil melihat panorama Berastagi, atau wisatawan yang membawa anak bayi atau orang tua lanjut usia yang tidak bisa capek menyusuri bukit,” katanya.

Menurutnya, biaya sewa tikar yang dibebankan kepada wisatawan sebesar Rp 50 ribu untuk tikar sedang dan Rp 75 ribu untuk tukar besar. Wisatawan bisa menggunakan tikar selama mungkin saat berada di Puncak Gundaling. Bagi anak-anak, puncak ini juga menjadi taman bermain yang indah. Pasalnya, ada gundukan rumput yang di pinggirnya dihiasi aneka warna bunga dan patung. Namun jika Anda membawa anak kecil, sebaiknya beri perhatian dalam menjaga mereka, lantaran lokasi ini berada di datarang yang tinggi. Robi Simanjuntak, seorang pengunjung menuturkan, Puncak Berastagi menawarkan banyak sehingga membuat pengunjungnya tak merasa bosan. Selain melihat pemandangan, ada juga delman dan kuda yang bisa membawa Anda mengitari bukit sambil membeli souvenir atau makanan hangat seperti jagung yang dijual di kawasan tersebut.

Wisatawan yang mengitari bukit dengan delman dikenakan biaya Rp 50 ribu dan kuda Rp 25 ribu. “Kalau baju kaus oblong dengan tulisan Berastagi dibandrol Rp 25 ribu hingga Rp 75 ribu tergantung bahan. Ada baju hangat atau baju yang dipakai saat dingin dibandrol sekitar Rp 70 ribuan. Sedangkan ulos lebih mahal dan beragam, tergantung jenis kain berkisar Rp 250 ribu hingga 1 jutaan,” kata Anggiat, pedagang aneka souvenir Berastagi.

Untuk menuju bukit Gundaling dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi, karena kendaraan umum jarang mau mengantarkan penumpang hingga puncak Gundaling. Untuk menyiasati kendala ini, wisatawan dapat menyewa angkutan dari Berastagi. Sebelum menuju puncak bukit Gundaling, para wisatawan juga dikenakan biaya retribusi yang dipungut oleh pihak pemerintah daerah setempat yakni sebesar Rp 4 ribu per orang.

Sejarah Bukit Gundaling.

Bukit Gundaling merupakan objek wisata yang terdapat di pinggirkota Berastagi, yang terletak kurang lebih 60 km dari kota Medan. Pemberian nama Gundaling oleh masyarakat sekitar memiliki sejarah tersendiri. Cerita yang merebak di masyarakat berkembang dari lisan ke lisan sehingga menjadi cerita rakyat tersendiri.

Awal kisah terbentuknya nama Bukit Gundaling adalah terjadi pada masa sebelum Indonesia merdeka. Di kisahkan bahwa pada zaman dahulu ada seorang pemuda berkebangsaan Inggris yang tinggal di daerah Berastagi sebagai penyebar agama nasrani. Suatu hari ketika berjalan-jalan di sebuah bukit dia bertemu dengan seorang gadis yang merupakan penduduk asli daerah tersebut. Gadis itu memiliki paras yang cantik dengan rambut panjang yang terurai, tutur bahasanya sopan dan lembut membuat sang pemuda begitu terpana dengan keelokan sang gadis.

Singkat kata, maka dengan rasa hati-hati dan sedikit ragu pemuda tersebut menyapa sang gadis, Walau bahasa daerah yang ia gunakan masih terlalu kaku. Tak terduga ternyata si gadis membalas sapaan pemuda tersebut walau dengan raut muka malu-malu maka mulailah sang pemuda mengajak sang gadis mengobrol sampai tak terasa waktu telah menjelang sore. Ketika sang gadis sadar jika waktu telah sore, gadis itu berpamitan kepada pemuda itu untuk pamitan pulang karena orang tuanya sudah menunggu di rumah. Sang pemuda sebenarnya enggan untuk melepaskan sang gadis karena masih ingin berlama-lama dengannya, tapi karena sang gadis terus memaksa maka dengan berat hati direlakanlah sang gadis untuk pulang.

Sejak kejadian itu sang pemuda selalu teringat dengan sang gadis dan selalu ingin bertemu dengannya, demikian juga halnya dengan si gadis tadi. Tampaknya kedua insan ini telah terkena panah cinta karena setiap hari saling merindukan satu sama lain. Singkat cerita, mereka jadi sering melakukan pertemuan di bukit itu dan akhirnya berikrar menjadi sepasang kekasih. Setiap hari dari pagi menjelang sore keduanya sering bercengkrama di bukit itu. Bukit tersebut merupakan bukit yang ditumbuhi rimbunan pohon pinus. Ketika telah tersampaikan hasrat hatinya maka berpisahlah keduanya untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Orang tua si gadis melihat banyak perubahan pada anak diri gadisnya yang sering melamun dan tersenyum-senyum sendiri. Bahkan sudah sekian lama sang gadis tak pernah lagi mau disuruh untuk pergi ke ladang membantu orang tuanya. Akhirnya timbul lah kecurigaan dalam hatinya tentang kelakuan anaknya tersebut. Dengan rasa penasaran orang tua si gadis mengikuti kemana perginya si anak secara diam-diam. Betapa terkejutnya orang tua si gadis mengetahui si anak berhubungan denganorang asing dan tak dikenal. Maka murkalah si orangtua tersebut, kemudiandengan paksa membawa anaknya pulang sehingga membuat si pemuda terkejut.

Hasil gambar untuk gundaling

Sejak saat itu sang gadis di kurung orang tuanya di rumah dan tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa seizin orang tuanya dan tanpa ditemani saudaranya. Orang tua si gadis berniat menikahkan si gadis dengan sepupu dekatnya. Rencana pernikahan telah dibuat dengan cepat tanpa meminta persetujuan si gadis. Sementara si gadis setiap harinya selalu dirundung kesedihan dan matanya bengkak karena sering menangis. Dia menangis karena tidak bisa lagi bertemu dengan kekasihnya. Demikian juga dengan sang pemuda selalu resah dan gelisah karena tak bertemu pujaan hatinya.Dengan di dorong oleh rasa rindu yang menggebu maka nekatlah sang pemuda menemui sang gadis di rumahnya dengan mengendap-endap pada malam hari. Dalam keadaan gelap gulita sang pemuda mendekati kamar sang gadis dan memanggil namanya dengan suara yang lembut dan pelan. Sebab ia takut ketahuan orang tau si gadis. Ketika sang gadis mengetahui dan mendengar suara kekasihnya maka dengan segera ia membuka jendelakamarnya. Dari jendela kamarnya sang gadis mengatakan kepada pemuda itu bahwa ia dalam masa pingitan dan akan segera di nikahkan dengan sepupu dekatnya. Terkejutlah sang pemuda, lalu menyarankan si gadis untuk kabur bersamanya.

Setelah bersepakat untuk bertemu di bukit tempat mereka biasa bertemu, pulanglah si pemuda ke rumahnya. Pada keesokan harinya pergilah si pemuda ke bukit tempat mereka janji bertemu. Dia menunggu sang gadis dengan perasaan gelisah. Sementara sang gadis berusaha keluar dari rumahnya lewat jendela. Tapi memang malang nasib si gadis karena masih dalam perjalanan ternyata keluarganya mengetahui niat si gadis lalu memaksanya pulang, dan hari itu juga dia di nikahkan dengan sepupunya. Sementara sang pemuda sudah gelisah tak menentu menunggu kedatangan sang gadis. Dia berjalan mondar mandir kesana kemari mencari sang gadis sambil berteriak memanggil “darling”, tapi yang ditunggu dan di harapkan tak kunjung tiba. Sang pemuda tak mengetahui jika sang gadis telah menikah dan tak mungkin bertemu dengannya lagi.

Setiap hari yang dilakukannya haya mondar mandir di bukit tersebut sambil memanggil “darling”. Sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan Berastagi sambil membawa luka hatinya. Sebelum pergi, ia memandangi bukit tempat ia bertemu dengan gadisnya. Maka terucaplah kata “good bye darling” yang artinya “ selamat tinggal sayang”. Dia mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang sambil teriak sampai bukit tersebut tak kelihatan lagi di pelupuk matanya. Masyarakat sekitar yang tak mengerti apa yang diucapkan sang pemuda karena bahasa yang berbeda mengubah pengucapan “good bye darling” dengan “gundaling”. Sejak saat itu bukit tersebut diberinama “gundaling”. (Gagasan Bangun/SN/Peter).

Leave a Reply

*